Danzoe’s Webloz
Just another Danzoe webloz !

CARA TERBAIK DALAM MENAFSIRKAN AL-QURAN

CARA TERBAIK DALAM MENAFSIRKAN AL-QURAN

KE-1 : Al-Quran di tafsirkan dengan Al-Quran

Mengapa demikian? Karena sebagian ayat yang mujmal (secara garis besar) di satu
tempat, ditafsirkan di tempat yang lain secara terperinci.

Sebagian ayat yang ringkas di satu tempat, akan diterangkan lebih luas di tempat yang lain…

Ayat-ayat Al-Quran satu dengan yang lainnya saling membenarkan, bukan saling
mendustakan sebagaimana telah ditegaskan oleh Nabi s.a.w. yang mulia.

Firman Allah :

“maka apakah mereka tidak emperhatikan al-Quran? Kalau sekiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat perentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisaa:82)

Ayat yang mulia diatas menjelaskan kepada kita, bahwa al-Qur’an ayat – ayatnya tidak saling bertentangan.

Oleh karena itu tidak ada yang mengatakan tentang al-Qur’an, bahwa
ayat yang satu bertentangan dengan ayat yang lain kecuali dua golongan manusia,
yaitu:
ORANG BODOH (Jahil), dan orang MUNAFIK atau KAFIR.

KE-2 : Al-Quran di tafsirkan oleh Hadits Nabi s.a.w.

Sunnah Nabi s.a.w. sebagai syarah (penjelasan) dan menafsirkan ayat-ayat Allah.
Sebagaimana Allah firmankan:

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
(QS.An-Nahl:44)

Dari ayat yang mulia diatas, kita mengetahui beberapa hukum dan faedah serta
kaidah, diantaranya:

  1. Ketinggian dan kemuliaan Sunnah di dalam Islam sebagai dasar hukum Islam yang kedua setelah al-Qura’an.
  2. Bahwa Sunnah (Hadits) sebagai penafsir pertama al-Quran.
  3. Bahwa al-Qur’an berjalan bersama dengan Sunnah, dan tidak boleh dipisahkan.
  4. Bahwa tanpa Sunnah MUSTAHIL dapat memahami dan mengamalkan serta menda’wahkan al-Qura’an dengan benar.
  5. Bila TIDAK MENJADIKAN SUNNAH sebagai dasar bagi kita untuk memahami al-Qur’an, pasti akan TERSESAT, sebagaimana kaum Khawarij.
    Telah berkata Umar bin Khaththab :

    “sesungguhnya akan datang manusia yang akan membantah kamu dengan berbagai macam syubat (dari ayat-ayat) al-Qur’an, MAKA LAWANLAH mereka DENGAN SUNNAH, karena sesungguhnya AHLUS SUNNAH lebih tahu tentang Kitabullah (Al-Qur’an)”.Riwayat Imam Daarimiy (sunnan:1/49)
  6. Nabi s.a.w. adalah orang yang paling alim terhadap Al-Qur’an. Oleh karena itu tidak syak lagi kesesatan orang yang menyalahi Sunnah Nabi s.a.w.
  7. Bahwa Sunnah adalah wahyu kedua setelah al-Qur’an meskipun dibaca tidak seperti al-Quran.Dalilnya firman Allah:
    “Dan dia (Muhammad) tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm:3-4)

    Sunnah inilah yang dimaksud dengan hikmah di dalam ayat berikut:

    “sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah (as Sunnah) serta mengajarkan kepada kamu yang belum kamu ketahui.”

    (QS. 2:151)

    Al-Hikmah yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah Sunnah Nabi s.a.w. (Hadits), sebagaimana telah ditegaskan oleh para Ulama diantaranya Imam Asy-Syafi’iy. (Lihat Majmu’ Fatwa Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah 1/6).

  8. KUFURNYA mereka yang MENGINGKARI SUNNAH (Hadits) secara mutlak dengan
    kesepakatan para ulama berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah serta
    ijma’ para Sahabat. Mereka inilah yang menamakan kelompok mereka dengan nama
    QUR’ANIYUN, yaitu kelompok yang hanya berpegang dengan Al-Quran saja, padahal
    mereka pada hakikatnya TELAH KUFUR terhadap Al-Quran (karena mengingkari
    HADITS
    ).Kesesatan mereka yang menolak sebagian Sunnah (Hadits) karena suatu sebab
    yang tidak syar’i. contohnya : firqah Hizbu Tahrir Mu’tazilah gaya baru. Mereka
    menolak hadits-hadits ahad (satu periwayat) dipakai untuk aqidah berdasarkan
    syubat kesesatan yang ada di kepala – kepala mereka.
  9. Keutamaan Ahli Hadits dan ilmunya untuk MEMAHAMI Al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w..
  10. KESESATAN orang yang MENDAHULUKAN AKAL dari Al-Quran dan Sunnah.
  11. Kesesatan orang yang menafsirkan Al-Quran dengan RA’YU (Akalnya) semata TANPA pebjelasan dari Sunnah.
  12. Bahwa akal apa bila tidak mendapat cahaya dari Al-Quran dan Sunnah, maka
    akal tidak akan berfungsi dan menjadi SAKIT dan GONCANG.
  13. Bahwa akal yang sehat dan memiliki ketegasan (Shahih dan Sharih) ialah akal yang mendapat cahaya dari Al-Quran dan Sunnah. Al-Quran dan Sunnah adalah
    WAHYU dari Allah.
  14. Asas di dalam Islam adalah wahyu kemudian akal. Barang siapa yang
    merubah ketentuan ini, yaitu dia menjadikan akal sebagai asas, kemudian wahyu,
    maka sesungguhnya dia telah TERSESAT.Dalil-dalil aqliyyah (akal) tidak memiliki kebebasan secara mutlak, tetapi terikat dan dibatasi oleh wahyu, yaitu Al-Quran dan Hadits.

KE-3 : Al-Quran di tafsirkan oleh para Sahabat Nabi. s.a.w.

Apabila tidak mendapati tafsir Al-Qur’an dari Al-Qur’an sendiri atau dari
Hadits, maka dikembalikan kepada tafsir para Sahabat Nabi s.a.w., hal
ini karena sebab yang mendasar, yaitu:

1. Para Sahabat Nabi s.a.w. menyaksikan langsung turunnya wahyu,
dan kekhususan-kekhususan lain yang tidak diketahui oleh orang yang sesudah
mereka kecuali dari jalan mereka.

2. Para Sahabat Nabi s.a.w. memiliki pemahaman yang sempurna dan
ilmu yang shahih.

3. Para Sahabat Nabi s.a.w. beramal sholih. Berkata Abdurrahman As Sulamiy, “Telah
menceritakan kepada kami orang-orang (Para Sahabat Nabi s.a.w.) yang telah membacakan (AL-Qur’an) kepada kami, sesungguhnya apabila mereka mempelajari dari Nabi s.a.w. sepuluh
ayat (AlQur’an), mereka tidak melampuinya sampai mereka mengetahui ilmunya dan (cara) mengamalkannya. Mereka berkata, Kami mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya sekalian. (Tafsir Ibnu Jarir no.67, Majmu’ Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-13/330, Muqadimah tafsir Ibnu Katsir).

Atsar diatas menjelaskan bahwa :

  1. Bahwa Nabi s.a.w. telah menjelaskan makna-makna Al-Qur’an kepada Para Sahabat Nabi s.a.w.
  2. Para Sahabat Nabi s.a.w. adalah orang-orang yang paling alim tentang tafsir AL-Qur’an.

KE-4 : Al-Quran di tafsirkan oleh para Sahabat Nabi. s.a.w.

Apabila tidak mendapati tafsir Al-Qur’an dari Al-Qur’an sendiri atau dari
Hadits, juga tidak didapati tafsir para Sahabat Nabi s.a.w., maka
kebanyakan dari para Imam mengembalikannya kepada
tafsir para Tabi’in.

Apabila mereka telah Ijma’ (sepakat) di dalam menafsirkan suatu ayat, maka
tidak ragu lagi bahwa tafsir mereka menjadi hujah. Dan tafsir yang
menyalahi tafsir mereka adalah tafsir muhdats ( bid’ah ) dan orangnya sebagai AHLI
BIDAH
.

Ketahuilah! Bahwa para Sahabt dan Tabi’in, mereka tidak menafsirkan Al-Quran
kecuali setelah mereka memiliki ilmunya, baik dari Al-Quran dan Hadits,
kemudian mereka berdalil atau beristimbath (mengeluarkan hukum) dari keduanya
sesuai pemahaman mereka ( para Sahabat Nabi. s.a.w. ).

%d blogger menyukai ini: